Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

Sembilan Puluh Derajat

        Ini adalah kisah kasih(an) yang terjadi sekita akhir tahun 2010. Waktu itu saya yang masih SMA sedang dalam perjalanan study tour Lampung-Bali kelas Akselerasi SMAN 1 Terbanggi Besar. Bayangkan saja, study tour dari Lampung ke Bali, naik bis, selama sepuluh hari, lalu mandi menumpang di rumah makan yang kami singgahi. Mimpi buruk di siang hari.
Hari kedua perjalanan, rombongan kami hinggap sejenak di Jogja lalu tanpa menginap di hotel atau dimanapun bis kami  melaju ke Surabaya. Tujuan utama study tour kami memang Bali. Namun berkat kepandaian Bu Endang mengatur jadwal dan budget, dapatlah kami mengunjungi tempat-tempat wisata di Jogja, Surabaya, Madura, dan pulangnya mampir ke Mekar Sari hanya dengan budget satu setengah jutaan. Hahahaha...ketambahan dari beasiswa BOP juga sih katanya..-__-
Perjalanan menuju Surabaya pada malam itu cukup ekstrim. Entah karena sopirnya ngambil rute yang nggak biasa, atau memang rombongan kami sedang mengalami kejadian dimana sebuah bis pariwisata yang sedang melaju di jalan tol tiba-tiba muncul di tengah hutan. Oke. Ini hanya dugaan mistis. Tapi yang jelas, malam itu (padahal baru jam 7 atau 8 malam), semua penumpang sudah mulai merasa ngantuk. Pemandangan di luar jendela yang tadinya berhiaskan rumah-rumah penduduk, sawah, pokoknya yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan mulai berubah menjadi barisan pepohonan. Tebak saya, sopir bis kami mengambil rute yang melewati hutan. Tapi nggak tahu, hutan apa yang kami lewati.
Rute yang kami lewati sepertinya agak-agak mirip sama Alas Roban (atau jangan-jangan beneran Alas Roban??). Hutan, jalan berliku, malam hari dan angker. Beberapa kali saya berimajinasi serem, disaat bis sedang melaju kencang, tiba-tiba saja sesosok yang tak dikenal menempel di jendela sebelah saya. Wajah pucat, mata yang cekung, dan tatapan kosong. Oke, sip. Ternyata itu bayangan teman saya, Tiwi, yang terpantul di jendela. Ngasih kode ke saya untuk tuker tempat duduk karena dia mulai pusing dan mual dengan rute yang berkelok-kelok dan jalan yang nggak rata.
Sisa dari perjalanan menuju Surabaya ini saya habiskan dengan mencoba tidur nyaman sambil duduk bersila. Sialnya, posisi enak ini dimanfaatkan oleh Tiwi yang tanpa berdiskusi dengan saya, dia sudah tidur berbantalkan pangkuan saya. Saya disergap rasa dilema antara kasihan sama teman yang lagi mabuk darat, atau kasihan sama diri sendiri yang sudah tahu ujung dari peristiwa ini adalah, kesemutan hebat.
Keadaan dalam bis yang gelap, guncangan demi guncangan yang menggetarkan hati, eh salah, badan maksudnya, serta kelokan-kelokan yang mulai terasa seperti efek main bom bom car, mebuat saya tidak menyadari berapa lama perjalanan kami menuju Surabaya. Rencananya nanti setiba di Surabaya, kami akan menginap di guest house milik ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Songong ya. Study tour anak SMA, nginepnya salah satu perguruan tinggi terkenal. =B
Sekitar pukul 11 malam (kalau tidak salah), perlahan-lahan bis kami mulai memperlambat lajunya dan mulai memasuki kawasan kampus ITS. Lampu bis juga sudah mulai dinyalakan, pertanda kami harus bersiap-siap turun. Sebelum bis benar-benar parkir, guru saya sempat berdebat dengan satpam yang berjaga karena kami datang terlalu malam. Untungnya tidak sampai menimbulkan masalah besar. =)  Dengan setengah kesadaran, rombongan kami mulai mengemasi tas dan turun dari bis. Berharap segera bisa meluruskan kaki di kasur yang nyaman.
Sayangnya, harapan saya dan teman-teman begitu saja pupus setelah mengetahui kalau bis kami parkir jauh dari guest house yang akan kami inapi karena bis besar tidak bisa masuk. Itu berarti kami harus berjalan kaki dengan jarak yang tidak diketahui, dengan keadaan setengah mengantuk, capek, dan membawa barang-barang kami agar tidak hilang dicuri bila ditinggalkan di bagasi bis. Dengan kata lain, ditengah malam yang sunyi itu...saya harus bersusah payah dengan kaki kesemutan menggeret koper berisi keperluan untuk sepuluh hari, tas ransel, dan beberapa kresek oleh-oleh dari Jogja...seorang diri. Greget banget!
Guest house yang akan kami tempati berada di kompleks guest house Bougenvile. Saya cukup terpesona akan keromantisan perjalanan kami dari bis ke guest house. Kami disajikan dengan rimbunnya taman-taman guest house lain dengan temaramnya lampu taman yang kekuningan. Di beberapa jalan, kami harus melewati terowongan tanaman rambat yang berhiaskan kiciran angin (yang ternyata, keesokan harinya saat terang barulah terlihat kalau itu adalah jejeran topeng serem yang digantung). Lalu perjalanan kami harus berubah menjadi menyeramkan saat tetiba salah satu anjing penjaga menggonggongi rombongan kami. Serem sih nggak juga, tapi kaget. Belum lagi dari arah guest house yang lain terdengar suara orang marah-marah. Eh, nggak taunya burung beo yang berusaha menyambut kami, tapi salah pemilihan kata dan intonasi. -___-
Setelah perjalanan panjang dengan segala kejutan, sampailah kami di guest house yang terlihat sangat hangat dan nyaman. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing empat orang per kamar. Tanpa aba-aba saya menggabungkan diri dengan Tiwi, Irine, dan Sinta. Yup! Anak SMA dulu masih suka bentuk geng dan mereka bertigalah teman geng saya. Kami memilih kamar yang jendelanya menghadap ke bagian belakang dan kamar mandi di luar. Kamar kami cukup luas, ada dua double bed yang bisa dipepetkan, AC, sebuat tv LCD, dan sebuah meja kursi. Kamar mandinya pun bersih.
Setelah kami meletakkan barang-barang kami, dan menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan kamar mandi, kami makan bersama di ruang tengah. Saya akui pelayanan di guest house ini sangat bagus. Tempat enak dan makanannya eat-able banget. Suasana yang sudah hampir tengah malam itu terasa seperti jam dinner biasanya. Rame, riuh, dan menyenangkan...
Sebelum tidur beberapa dari kami ada yang melakukan kembali ritual kamar mandi, bongkar-bongkar koper, dan sholat isya. Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke kamar teman saya yang lain. Ketika melihat teman saya sedang memakai mukena, saya jadi teringat kalau saya belum tahu arah kiblat.
“Arah kiblatnya ke mana, Han?” tanyaku santai sambil guling-guling di kasur. Rupanya kamar geng kami sedikit lebih luas daripada kamar teman saya.
“Ke sana, Wid. Tadi aku tanya Bu Endang,” jawab Hani singkat sambil menunjuk arah yang dimaksud lalu sholat.
Rasa mengantuk saya sudah semakin menjadi, maka saya putuskan untuk kembali ke kamar, sholat isya, lalu tidur. Tiwi dan Irine yang baru saja selesai sholat sedang merapikan tempat tidur dari segala barang-barang kami dan melipat mukena. Sedangkan teman saya yang lain, si Sinta entah kemana.
Selesai sholat saya ikut bergabung dengan Tiwi dan Irine yang sudah lebih dulu berbaring di tempat tidur dan sibuk dengan handphone masing-masing. Yang sms pacarlah, yang sms orang tua lah...
“Eh, kalian udah pada sholat?” tanya Sinta yang tetiba aja muncul dengan wajah basah.
“Udah dong,” jawab Tiwi agak mengejek.
“Kiblatnya ke arah mana?”
“Sana,” jawab Irine singkat sambil menunjuk ke arah belakang bahunya.
Satu raka’at Sinta sholat, saya, Tiwi, dan Irine masih berbaring sambil mainan handphone dan menahan ketawa karena becandaanya Tiwi. Takut mengganggu konsentrasi sholatnya Sinta. Sampai pada akhirnya, saya menyadari sesuatu...sesuatu yang buruk...sesuatu yang sangat menyesatkan...
“Eh, Wik...liat ke atas geh.. itu apa coba?” tanya saya sambil menyenggol teman saya dan menunjuk ke arah pojokan atas langit-langit kamar.
“Apaan sih emangnya?” Tiwi mulai penasaran.
“Coba baca geh..” Saya masih bersikap sok horror.
“Emm...a...rah..ki...blat...emang kenapa sih, Wid?” Tiwi belum mengerti maksud saya. Irine yang sudah hampir tertidur akhirnya ikut nimbrung. Kami bertiga berdesak-desakan dipojokan bed agar bisa melihat tanda hijau yang tergambar di langit-langit kamar.
“Tau nggak...” kata saya mulai serius lagi, “Sinta sholat arahnya beda 90 derajat dari tanda yang diatas.”
Hening. Kami bertiga saling pandang. Lalu memandang Sinta yang masih dengan khusyuknya melanjutkan sholat. Saya yakin benar sepelan apapun suara saya saat menyebutkan ’90 derajat’, Sinta pasti dengar. Oleh karena itu, muncul begitu saja niatan kami bertiga untuk tertawa sekeras-kerasnya agar Sinta membatalkan sholatnya dan mengarah ke arah yang benar.
“HAHAHAHAHA!!!” kami bertiga kompak tertawa geli dan sialnya Sinta tetep tak bergeming.
Oke. Kami sadari niat jahat kami memang salah. Tapi ini sudah keterlaluan. Tempat pemasangan tanda arah kiblat yang nggak masuk akal ini benar-benar menyesatkan umat muslim serta tidak sesuai dengan peraturan pemasangan petunjuk arah yang salah satunya berbunyi “pasanglah tanda atau petunjuk arah ditempat yang memungkinkan orang melihatnya”.
Selesai Sinta sholat, dengan masih tertawa ngakak dan napas ngos-ngosan, kami berebut memberi tahu Sinta soal petunjuk arah kiblat itu. Diluar dugaan, Sinta sudah menangis karena tak kuasa lagi menahan tawa mendengar segala ocehan kami selama dia sholat. Pada akhirnya, dengan alasan ketidaktahuan dan badan yang emang sudah capek banget, Sinta memutuskan untuk tidak mengulang sholatnya dan kami pun tidur. Oh, sungguh malam yang ramai.
Sampai detik ini pun saya masih nggak mengerti, apa maksudnya pihak pengurus guest house ITS membuat petunjuk arah kiblat di langit-langit kamar. Sudah di  atas, kecil, pojokan pula.


SARAN
1.      Ketika di penginapan, perhatikan seluruh kamar secara mendetail. Jangan cuma perhatikan mas/mbak resepsionisnya yang kece badai, atau fasilitas-fasilitas penginapan yang bisa bikin stay-able. Siapa tahu menemukan petunjuk-petunjuk tersembunyi. :’)
2.      Saat menginap di tempat yang belum pernah dikunjungi, ada baiknya menanyakan arah kiblat yang benar kepada orang yang benar juga. Jangan asal menerka-nerka atau bertanya kepada orang yang sudah sholat duluan. Meskipun itu teman, guru anda sendiri. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi dengan derajat yang lebih parah. -_____-
3.      Ada baiknya juga, kalau sedang bepergian jauh, untuk para muslim wajib membawa kompas kiblat atau benda apapun yang bisa menunjukkan arah kiblat. Syukur-syukur yang paling canggih.

d[cerpen ini adalah mantan peserta lomba 'The Ho[s]tel" tahun 2013]


{
{

Sabtu, 06 April 2013

ああ、みんな。俺はうんざりしている。疲れてった。君たちは、あまりにも利己的である。誰もが別のテーマを持っている?何地獄!

Dear Sister :) It's All about You to Me.

This is strange.
I still feel uncomfortable when you called me 'adek'.
The story between you and me.
Story of you and me in the past.

This is strange.
I always remember you never to called me like that.
Just called my name.
There is a distance between us that is always together.

This is strange.
You and me in the past.
Fighting, yelling at each other, hate each other.
I still remember.
You always make me cry.
Didn't protect me, like the other sisters.
All happened before, makes me feel like I life myself.
Whereas the only sister I have only you.
But we don't like the other sisters.

Sometimes,
Maybe we have the same clothes, or similar stuff.
But it wasn't enough to make me feel I'm not alone.

I don't know how you feel at that time.
I know, you're like me and never converge.

Ah, sometimes, I wish you didn't exist.
You, too, may have wished I had never born.

"First born sister to protect her younger sister.
younger sister born after older sister because the younger one need protection. "

All the words is like bullshit.
Which I know is you and me didn't close.

But I can't hate you forever.
Because you and me actually have each other.
I know, you're actually really loved me.
Because only me, younger sister you've got.
Teach me the Japanese language, introducing me litmus paper and acid-base, introducing me a matrix, showing methe form of diskettes, showing me transverse leaf images.
Apparent all that you learned in high school, you introduce me who was in elementary school.
Sometimes you make fun of me.
With your long hair, you let it break down on my head.
I had one that used to cut my hair short, certainly refuse.
But you always insist, and said "well, you have long hair now."

You and me in the past.
I don't completely hate you.
When you are not at home, I secretly look at all your things.
Writings in a book lesson, letters tucked between pages of a book, or a photo of your boyfriend.
I know everything.
Your diary too, as well as the stories that you experience out there, where I can not see it.

We are not close.
So this is how I know you laneways closer.
Everything I founnd out information about you own then make it a secret.
Because I know, I have a sister who's just you.

All changed when it was time we growing up.
When the school makes between us more distance away.
Not in the same house.
Didn't meet every day.
Didn't talk every day.

This is strange.
What we did remains as before.
I'm glad you're not home, and I still don't know how you feel.

Then, here we are now.
Really has changed.
Especially you, is much more mature.
Thinks that I as people who may be asked about your boyfriend.
Or talk about the things we want to achieve together.

This is weird.
When you called me 'adek'.
Not only  when you said it in front of me, but also in front of your friends.
I'm still not used to be this one habit.

But I'm happy.
Although once in a lifetime you call me that.
I'm thankful to have a sister like you.
Even though not the perfect sister.
But to me, you're a great big sister and really understand me.
And I am happy, I am your younger sister.

I want you to know that I love you, Onee-sama. ^ ^
* but I was too shy to say it directly. Maybe you're also so *

Kkk~ Terima kasih. 

Rabu, 20 Maret 2013

Musuh-musuh Otaku Manga!!!

Buat Anda sekalian yang merasa atau mengaku Otaku Manga, disadari atau tidak, ada hal-hal yang menjadi musuh dalam hidup ke-Otaku-an kalian. T.T
Berdasarkan pengalaman pribadi, hal-hal berikut ini adalah musuh para Otaku Manga:

1. Toko Buku
Sudah pasti, kalau udah cinta dan ketemu yang dicintai (dibaca : manga) di toko buku, pasti bawaannya pingin dekeeeeeet terus (dibaca : beli). Keturutan deh kalo ada duit. Nah, kalo nggak ada???? Kebawa mimpi deh udah nge-list manga apa aja yang mau dibeli, tapi ternyata cuma bisa diratapi (dibaca : cuma diliat-liat) alias CUMA SURVEY. (Pengalaman pribadi yang sering terjadi --> Menyedihkan)

2. Manga Online vs Manga (dibaca : beneran bentuk buku)
Beberapa Otaku Manga, terkadang tidak hanya sekedar senang membaca manga, tetapi juga ada yang senang mengoleksinya. Nah, ini dia yang juga bikin geregetan. Di saat manga-manga baru banyak terbit di website manga online, yang bentuk buku dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lokal lamaaaaaaaa banget terbitnya. T.T Bahkan ada yang manga online nya udah sampe belasan volume, ternyata bentuk 'hard-lokal' nya baru keluar 1 volume. Ini sangat memprihatinkan sodara-sodara!

3. Terjemahan Bahasa Inggris
Buat yang nggak sabaran nunggu manga terbitan lokal, biasanya lebih milih manga online yang berbahasa Inggris. Bagus sih emang, buat ngebiasain mbaca teks bahasa Inggris, tapi ada beberapa orang yang nggak ngerti dan akhirnya cuma ngeliat gambarnya aja. Ceritanya nggak ngerti. T.T (Ini juga pengalaman pribadi yang menyusahkan. Kadang sampe bolak-balik buka website manga online sama kamus pc.)

4. Rental Komik
Rental komik adalah salah satu solusi buat 3 musuh yang telah disebutkan sebelumnya. Nggak perlu bayar belasan ribu untuk baca satu buku, nggak perlu repot nerjemahin dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, dan koleksi manga-manga terbitan lama pun ada. Sayang, solusi ini nggak berlaku untuk para Otaku Manga berkantong tipis (seperti saya). T.T apalagi nggak bisa dicap 'HAK MILIK'. Nyeseeekk~ (/=..=)/~

5. DISKON
Ini nih yang paling bikin hati cekit-cekit. Waktu  ada diskon gede-gedean. Nyampe 40% !!! (Diskon terbesar yang ada di kota saya). Sesungguhnya ini bukanlah musuh buat para Otaku Manga, yang bikin jadi musuh itu gara-gara udah ada diskon besar-besaran, nggak punya duit, dan liat posternya sehari setelah masa diskon berakhir. Ah~~~ berasa lemas tak bertulang raga ini....

6. Lingkungan Sekitar
Pengalaman pribadi membuktikan, bahwa saya adalah orang yang kalau udah ketemu manga, berasa tenggelam dalam dunia kelam saya. Menurut pengakuan temen-temen saya, kalau saya lagi baca manga, sudah dipastikan telinga seperti lagi disumpelin headset terus nyetel lagu rock volume-max! (dibaca : nggak denger kalo diajak ngomong), tingkat keseriusan meningkat ratusan persen (lebih serius dan fokus daripada saat ngerjain ujian), dan suka nggak sadar ketawa keras-keras padahal lagi di tempat umum. Intinya adalah orang-orang sekitar akan melihat kita sebagai sesuatu yang 'diluar dunia normal'. Padahal emang normal 'kan ya? T.T (Normal untuk para Otaku Manga maksudnya...)

Yup! Sekian curhatan saya sebagai Otaku Manga kali ini. =.= Sebenernya ada satu musuh terbesar bagi saya sebagai seorang Otaku Manga. Yaitu, disaat sudah beli manga yang dipinginin, terus ada adegan lucunya, terus pingin ketawa ngakak, tapi nggak bisa ketawa gara-gara sakit gigi..... =.=
Malang nian nasib saya ini... T.T (Musuh ini sangat berpengaruh untuk tipe orang yang bisa ketawa ngakak cuma gara-gara baca manga. Contohnya saya. Bahkan manga serius macem Detective Conan pun bisa buat saya ketawa terpingkal-pingkal).

Selasa, 19 Maret 2013

Waktu Aku Pertama Kali Ngomong Sama Dia :)

Rasanya..
Aku mulai tertarik (lagi) dengan seorang laki-laki.
Dia cukup pendiam.
Penampilan biasa.
Rambut acak-acakann.
Tapi suaranya...berkesan di hati.
Aku pikir akan sulit
Memulai sebuah percakapan
Begitu juga saat aku dan dia
pertama kali berdialog.
Simple, tapi...
Entahlah, ada daya tarik dari cara dia bicara...
Suaranya...
Ah, mungkin juga tatapan matanya.
Tapi aku terlalu malu untuk memandangnya.
Seterusnya...
Ada yang berbeda dengan dirinya.
Hanya dalam beberapa jam
dia telah membuatku terfokus padanya.
Sesekali aku mencarinya.
Sesekali aku berharap.
Ah, sayang sudah usai.
Kesempatanku untuk mengenalnya lebih jauh sudah tidak ada.
Entah sampai kapan aku tertarik padanya.
Yang aku sadari...
I still looking for him.
:)

Jumat, 01 Maret 2013

Partai Pohon Beringin

Ini orang-orang kos ribut komentar sama berita di tv. Yang anak dibunuhlah, yang pelecehan seksual lah, partai Golkar lah.. =.=
Makin bobrok aja moral negara ini. 
Nah, ngomongin tentang partai golkar, ada kenangan masa kecilku yang nggak menyenangkan sekali tentang partai yang satu ini. =.=
Ceritanya nih ya, dulu itu pas waktu aku masih kecil, yah.. kira-kira kelas 2 atau 3 SD lah. Waktu itu aku masih tinggal di perumahan PT tempat bapak kerja.
Aku selalu punya kenangan manis di perumahan ini. Meski rumah yang ditempati berukuran kecil, dikelilingi perkebunan nanas, dan jauh dari segala kemajuan teknologi yang sedang berkembang, aku menganggapnya adalah sebuah pulau kecil. Pulau yang penduduknya adalah orang-orang yang merantau. 
Kehidupan perumahan ini selalu saja meriah. Entah pagi, entah siang, entah malam, selalu rame. Nggak terkecuali pas perayaan-perayaan tertentu. Salah satunya adalah perayaan 17 Agustus. 
Tiap taun, di awal bulan Agustus, rumah-rumah di perumahan ini sudah dihiasi dengan segala pernik-pernik ala 17 Agustus-an. Para bapak mulai mencari bambu-bambu kecil untuk memasang umbul-umbul dan bendera merah putih, anak-anak kecil merengek ke orang tua mereka untuk menghias sepeda mereka sekeren mungkin, sedang ibu-ibu berlatih senam poco-poco untuk dilombakan. Tak ketinggalan para bujang yang latian nge-band buat acara puncaknya.
Dan.....yang lagi ngetrend waktu itu adalah....lampu kelap-kelip yang dibentuk lucu lalu di pasang di depan setiap rumah. 
Yang paling keren saat itu adalah bentuk Teletubbies milik tetanggaku yang anaknya bernama Riko ( Aku lupa nama orang tuanya siapa =.=), terus bentuk bintang, bentuk bulan, bentuk bunga.. macem-macemlah pokoknya.
Kalau jalan di jalan perumahan pas malem hari, keliatan cantik banget itu lampu-lampu nya...
Dan yang bikin merusak adalah lampu kelap-kelip punyaku! >.<
Kenapaaaa bisaa?? 
Karena ibuku yang ngebentuk itu lampu-lampunya! >.< 
Nggak menyalahkan karena jelek sih.. tapi.. bentuknya itu.. yang... ya ampun... aku sampe berkali-kali ditanyain sama temenku "Wit, itu bentuk apa sih? jamur ya?"
Banyak yang mengira itu bentuk jamur. Padahal....
"Itu pohon beringin." kata ibuku pas aku tanya itu bentuk apa.
APA?! beringin dari mana coba.. jelas-jelas kalau aku yang liat itu bentuk jamur! bener-bener jamur!
Katanya sih ibu terinspirasi sama partai Golkar. =.=
Belum lagi kata bapak yang bilang itu lambang Koperasi Dwi Karya, koperasi yang ada di PT ini.
Ah.. aku juga nggak ngerti maksudnya apa orang tuaku ini.. Sungguh bentuk yang nggak lucu, dan nggak normal.. dan buat masa kecilku.... agak sedikit menyedihkan.. T.T 

Kamu yang Pergi

Banyak orang berpikir
Yang pergi lah yang akan berubah
Entah itu hidupnya
Entah juga hatinya..
Sedang yang ditinggalkan,
akan menunggu dengan bodohnya
Tapi kurasa kamu tidak begitu
Pergi mengikutiku, lalu melupakanku
Karena kamu pergi dan berubah
Tidak ada yang tertinggal
Tidak ada yang menunggu
Aku..
Hanya masa lalu mu..

Rabu, 13 Februari 2013

Science-Words


Hidupmu yang memotong garis x hidupku
Dan hidupku yang memutasikan DNA hidupmu
Meski tidak di dimensi tiga yang sama
Yakinlah kita seperti larutan sejati, tak sekedar koloid..

Senin, 11 Februari 2013

Misteri golongan darah saya... T.T

Uhm... um... =.=
tadi siang nggak sengaja ngeliat postingan temen di facebook tentang sifat-sifat manusia berdasarkan golongan darah. Terus, aku jadi penasaran.. =.=
Aku sampai detik ini masih nggak tau golongan darahku itu apa. Yang aku tau golongan darah bapak B sama golongan darah mbak Hitta itu A. Jadi, berbekal sedikit pengetahuan Biologi tentang genetika yang aku dapet di SMA, golongan darahku bisa salah satu dari golongan darah A, B, AB, atau O. =.=
Well....mulai random.
Karena aku nggak tau golongan darah ibuku, jadi aku kira-kira aja golongan ibuku A. dengan skema berikut ini, akan aku jelaskan...

  ---

Em.. nggak jadi pake skema deh, susah soalnya. hahaha :D *laugh*
Intinya, dari postingan temen yang aku baca, sifatku lebih menjurus ke orang-orang bergolongan darah B. =.=
Tipe orang yang random abis dengan segala minat terhadap berbagai hal dan membuat jadi nggak bisa serius mendalami satu bidang. =.= (argh! aku lemas~ @.@)

Aku jadi semakin random.. =.= aku lanjutkan besok lagi tentang golongan darah. Insyaallah sekalian sama skema 'kemungkinan golongan darah berdasarkan ilmu kira-kira'.. =.=

Sabtu, 26 Januari 2013

Ciel-Sebastian Kuroshitsuji


Yuhuuu! Aku semalam tadi nggak tidur karena nggambar ini =.=
Ciel Panthomhive dan Sebastian Michaelis dari anime Kuroshitsuji ^^ *yeah*
Fufufu~ :3